Entri Populer

Sabtu, 17 September 2016

"Tentangku dan Seorang Penulis Patah Hati"



"Tentangku dan Seorang Penulis Patah Hati"
Oleh:
Ilkhas Suharji
.
.
.
sumber photo:
-
Di sebuah meja kecil warna coklat kayu terplitur dengan berbagai corat-coret tulisan tangan usil yang menodainya, oh bagiku bukanlah menodai tapi memberikan nilai seni keindahan karya pena manusia. Aku tergeletak tiada daya kecuali ketika angin yang sedikit kencang itu menghempasku, membuka lembaran demi lembar tubuhku. Di sampingku juga tertidur sahabat setia yang biasa memberikanku tato tubuh dengan kalimat-kalimat sastra atau dengan lukisan kata kegalauan dari tuannya, tuannya adalah tuanku juga.
-
Sudah lebih dari sebulan ini tubuhku tak tersentuh sedikitpun oleh sang tuanku, padahal biasanya tak seharipun terlewati kecuali tubuhku pasti terjamah olehnya. Jujur aku memang merindukan saat-saat dimana aku bercinta dengannya, tertawa bersamanya, atau bercerita tentang hari-hari yang ia lalui, atau keluhan-keluhan tentang cinta, atau saling berfikir mengenai suatu topik, atau menuangkan gagasan kreatif dunia, atau juga berpuisi ria. Aku jadi ingin menangis merasakan kondisi diriku saat ini. Apakah aku sudah termakan oleh ganasnya waktu dan tergilas perubahan zaman? Ataukah hadirku yang telah tergantikan oleh sosok lain yang lebih cantik dan menarik?
-
Sejatinya memang tak ada hak bagiku untuk mengeluhkan hal ini, atau sebenarnya tiadalah suatu hal yang perlu dikeluhkan, sesungguhnya keluhan hanyalah akan membawa diriku dalam kebencian. Tapi, setidaknya bolehkah aku menyuarakan isi hatiku, rasa yang kini kujalani, rasa sepi, seolah tak berguna, tak berarti, lalu untuk apa aku ini ada? Oh Tuhan, tanpa ku sadar ataupun sebenarnya sadar tetaplah kini aku mulai mengeluh, aku merindukannya Tuhan, Salahkah?
-
Haruskah aku memerankan diri sebagai Danau Air Mata seperti dalam kisah legenda, danau air tawar segar yang mengubah isinya menjadi air asin seperti airmata karena merindukan sosok Narcissus, seorang muda yang sebelumnya setiap hari berlutut di tepi danau untuk mengagumi keindahan diri sendiri melalui pantulan bayangannya di hamparan air seperti cermin dan terpesona oleh dirinya sendiri hingga suatu pagi ia jatuh ke dalam danau itu dan tenggelam. Haruskah aku menjadi danau itu dengan kini menangis tersedu merindukan tuanku yang dulu sering juga menuliskan pujian-pujian untuk dirinya sendiri. Apakah tuanku sebenarnya juga seperti Narcissus yang mengagumi dirinya sendiri dan pada akhirnya tuanku melebur masuk ke dalam tubuhku? Seperti halnya Narcissus tenggelam ke dalam danau. Apakah mungkin seperti itu? Ah, aku hanya pandai menduga-duga, sejatinya tentang tuanku hanya ia sendirilah yang tahu pastinya.
-
Kerinduanku ini membuatku bingung, aku bagaikan nelayan yang kehilangan arah, harus apa dan bagaimanakah diriku ini? Bahkan di malam ini, ketika kesunyianpun masih tetap membisu, semilir angin malam menusuk sum-sum masuk melalui ventilasi jendela, dan langit yang penat tanpa hadirnya rembulan dan gemintang, malam gelap, pekat. Aku masih tetap kosong dan hampa, tubuhku masih putih bersih dan aku kini menginginkan noda itu, noda hitam yang keluar dari ujung benda tumpul sahabat intimku, yang tentunya digerakkan oleh tuanku.
-
Bagiku, apalah guna putih bersih tanpa cinta, ternoda dan kotor kadang lebih baik kiranya, ingin rasanya aku beri rangsangan padanya untuk bangkit bernafsu mencumbuiku dengan ganasnya bergumul dengan kata-kata, hingga nantinya klimaks dan mengejakulasikan gagasan-gagasan penting dalam rahimku dan selanjutnya kulahirkan menjadi buah karya yang membahana.
-
***
-
Pagi mulai meraba cakrawala, kulihat cahaya mentari itu dari balik lubang bening atap rumah, genting kaca yang membuatku tahu adanya ia. Tuanku bangun dari alam mimpinya tapi tetap belum menyapa, tak seperti sebelum sebulan yang lalu, biasanya setiap membuka mata ia langsung mencariku, membubuhkan cinta melalui tinta padaku. Entah apa salahku? Atau apa yang terjadi pada dirinya? Hal seperti bagaimanakah yang mampu membuat ianya berubah? Otakku telah penuh berdesakan tanda tanya.
-
Ku pandangi gelagat tuanku, tingkahnya yang tanpa mencuci muka terlebih dahulu sudah memegang berita harian, 'headline news' dari koran itu adalah persoalan kebijakan presiden terhadap gembong narkoba warga negara asing yang akan di eksekusi mati. Juga protes dari berbagai kalangan masyarakat terhadap keambiguan penetapan hukum pada kasus yang membentrokkan antara polisi dan komisi pemberantasan korupsi. Lalu berlanjut dibukanya lembar ke halaman olahraga, berita kemenangan tim sepakbola favoritnya di pentas liga champions eropa membuatnya tersenyum puas.
-
"Ayolah! Sebentar saja tak mengapa, lihatlah aku minimalnya! Aku mohon." Jeritku mengemis perhatian dari Tuanku.
-
Ia bangkit menuju ke arahku, semakin dekat dan dekat, terasa detak jantungku semakin kuat meronta. Akankah ia kembali memeluk erat tubuhku dan mencium gemas bibirku lalu meremas lembut dadaku, ataupun cukup dengan mengecup keningku dan beri belaian mesra dari jemarinya untukku? Ah, rupanya ia terus berjalan melewatiku, bahkan tak sedikitpun tatap matanya jadi milikku. Kesal semakin rasanya, perasaan bersalah semakin menghantui, padahal apa salahku? Beginikah juga yang seseorang rasakan ketika dirinya tiada berarti, tak terhargai? Ingin rasanya aku bunuh diri saja, kalau aku tak segera menyadari bahwa aku ini hanyalah benda mati seperti yang manusia pikirkan, padahal mereka tak menahu bahwa akupun bisa merasa frustasi jika terus tak digauli, jika aku hanya tergeletak tak berisi goretan 'mangsi', bahkan kadang aku sampai cemburu pada tembok yang bergambar graviti menghiasi ruangan ini, atau buku milik bocah taman kanak-kanak yang hanya berisi lukisan abstrak dari corat-coret krayon warna-warni.
-
***
-
Di sudut meja penjual nasi untuk sarapan atau minum sekaligus istirahat, tersaji teh hangat beserta nasi yang telah terlumuri minyak panas beserta bumbu-bumbu penyedapnya, aku sudah duduk dari tadi menantinya, bukan menanti pengganjal perut di pagi ini, tetapi menanti seseorang yang bisa menemaniku setiap hari, untuk sekedar duduk disampingku dan atau bercerita padaku tentang hari-hari yang dijalaninya.
-
Sudah dari satu lebih setengah tahun yang lalu aku menjalani kesendirian, tanpa sosok pengingatku terhadap janji Tuhan, katanya manusia itu tercipta dengan berpasang-pasangan, tetapi aku masih saja sendiri, ya aku tahu mungkin ini memang cobaan untuk kesabaranku, mengikhlaskan diri dalam kesendirian dan sepi.
-
Menyentuh kehangatan piring yang menghantarkan panas dari nasi yang berwarna kecap, serta hangat kuku gelas berisi air kecoklatan hasil asimilasi zat-zat kimia, tetapi itu semua tak mampu memberiku tahu sebagai kehangatan karena hatiku yang masih saja dingin, sedingin embun pagi di musim salju, tanpa seorang kekasih.
-
Perlu waktu lama bagiku untuk menghabiskan sajian di pagi ini, seperti lamanya diriku menantikan pujaan hati yang kelak bersamaku mengarungi indahnya samudra kehidupan, dengan lika-liku ombak masalah yang pasti kan terselesaikan, hingga bersama berlabuh di pulau kedamaian surga. Memang suasana disekitarku ramai secara indrawi penglihatan, tapi runguku tetap saja sunyi, hanya dentang jarum jam sajalah yang bisa kudengar, tidakkah itu terlalu memilukan?
-
Aku sudah hampir saja putus asa dan beranjak pergi dari tempatku mendudukkan tubuh yang meringkih dalam kesendirian ini, andaikan saja tak kudengar suara cantik yang merambah dari pita suara bibir manis itu melalui gelombang penghantar dan menelusuk ke gendang telingaku. Refleks saja hatiku seketika bergemuruh bagai gejolak riak air terjun yang tak karuan kiranya, menyadari bahwa suara itu datang pastilah dari sosok hawa ber-raga bidadari dan berhati penuh cinta, dan ketika kutolehkan pandanganku, benarlah, dia adalah dia yang menjadi 'Eros' hatiku ini.
-
Ah, tapi dialah yang membuat sepi jiwaku dari adanya bahagia, keyakinanku yang telah lama terbangun menjadi istana yang kusebut 'kastil cinta', hancur lebur karenanya. Harapanku menjadi keping-keping putus asa, setelah ia tolak cinta suciku di malam itu, saat bintang dan bulan membersamai kita berdua dalam indahnya harmonika alam raya.
-
Malam itu menjelang fajar, disaat berdua dalam duduk yang ia bersandar di bahuku, aku kira itu momen yang tepat.
-
"Ketika aku mencintaimu dengan sepenuh kesemuaanku, apakah kau kan membalasnya dengan cita-cinta?" Ungkapku hadapannya beriringkan suara-suara binatang malam.
-
Mulutnya membisu, suaranya hanya desahan nafas saja, ia lepas sandarannya, matanya menatap rerumputan yang mulai mengembun, dan diamnya berfikir menjawabku, serta aku hanya menunggu sembari melihat gemintang di angkasa, sementara semilir angin gunung tiada hentinya mencoba bekukan urat-urat nadiku.
-
"Apakah kiranya kau tak mengindahkan permintaan rasaku? Ataukah diammu ini sebagai tanda penyambutan cinta?" Ku tegaskan suara memandangnya yang hanya menunduk diam.
-
Ia bangkitkan wajahnya memandangku dengan senyum yang dipaksakan, "Jangan seperti itu ya. Aku ingin kita seperti ini saja! tidak lebih." Kulihat rautnya berubah melankolis penuh iba, mungkin ia melihat ekspresiku yang datar. "Maafkan aku". Tukasnya lalu bangkit meninggalkanku sendiri, ia kembali ke tenda bergabung dengan teman-teman, aku masih duduk dengan hati kecut, masih kurang mengerti atau sebenarnya aku tau inilah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan, dan wajah datarku semakin kaku tersapu derasnya angin yang tiba-tiba membawa kabut kepiluan.
-
Bayang-bayang kenangan pahit itu terhenti ketika tanpa kusadari pemilik suara itu telah sampai di depan meja makanku dan ia menyapa.
-
"Hai". Sapanya dengan senyum itu, iya, senyum itulah yang manis tapi mematikan, meski tetap selalu kurindui.
-
Aku hanya membalasnya dengan senyum getir yang dipaksa bermanis, meski malah menjadikan semakin canggung. Ia duduk di meja depanku setelah memesan menu, karena hanya itulah tempat yang masih tersedia, dan dengan suasana mati, aku tetap diam, begitu juga yang ia lakukan.
-
"Sendirian sajakah dirimu?" Tanyanya mencoba mencairkan suasana.
-
"Iya, seperti yang kau lihat ini, kau juga?" Jawabku dengan masih berwajah datar.
-
"Tidak, aku sedang menunggu seseorang, aku ada janji." Wajahnya menolah-noleh menunjukkan pencarian sosok yang ditunggui.
-
"Ooh seperti itu." Tanggapku cuek saja, sambil mengaduk es teh.
-
Ia diam, akupun sama, tak lama setelahnya datang seorang lelaki sebaya denganku duduk dan berada disampingnya. Tidak terlalu tampan tetapi menunjukkan sosok elit mapan yang rapi dan mengesankan, ia tundukkan kepala sopan kepadaku, akupun balas dengan hal yang sama. Aku diam dan kuambil buku dalam tas berpura-pura membacanya tapi sebenarnya fokus mendengarkan dan sesekali memperhatikan mereka.
-
"Gimana kamu kuliahnya disini ndugh?" Tanya lelaki itu padanya, panggilan 'ndugh'? Setahuku itu adalah panggilan sayang dari seorang kepada wanita yang menandakan suatu kedekatan.
-
"Biasa saja, mas sendiri? Bagaimana dengan kuliahnya mas di Jogja?" Jawabnya dengan manja, tak biasanya kulihat ia sesenang itu.
-
Obrolan mereka semakin asyik saja berbanding terbalik denganku yang semakin membara terbakar kecemburuan yang seharusnya aku tak punya hak untuk itu. Dari yang mereka bicarakan, aku bisa mengetahui bahwa lelaki itu adalah mahasiswa jurusan hukum di perguruan tinggi ternama di Jogja. Aku yang tak kuasa lagi menahan gejolak amarah ini, beranjak berdiri menjauh dari keduanya, menuju kasir kantin, membayar dan pergi. Sekilas aku masih melihat mereka berdua dari belakang, dan sepertinya adaku memang tak berarti baginya. Ia masih asyik bercanda ria dengan lelaki yang aku yakini adalah kekasihnya.
-
***
-
Memang hati tak mudah berpaling dari kecintaannya, meskipun yang dirasakannya hanyalah duka dan rundung lara, seperti halnya ngengat yang tak bisa berpaling dari cahaya lampu kota, meskipun yang dirasakannya hanya panas menyengat tubuhnya. Kecintaanku pun sama, aku mencintainya meski hatiku terluka, aku menyayanginya meski ku tahu dia telah berpunya.
-
***
-
"Besok ada diskusi tentang 'perempuan TKW' di kampus, engkau bisa ikut?" Tanyaku padanya lewat pesan elektronik.
-
"Oh terimakasih atas infonya, tapi sayangnya aku tidak bisa mengikutinya mas, besok aku akan ke jogja" balasnya.
-
"Acara apa ke sana?"
-
"Acara hunting touris bersama anak-anak bahasa, pertama ke borobudur dahulu di magelang, lalu ke mallioboro jogja"
-
"Ooh, ya sukses saja buat acaranya, jangan lupa oleh-olehnya ya!" Candaku.
-
Tak ada balasan dari dirinya,
-
Beginikah diriku, seperti tak punya malu sahaja terhadap perempuan anggun itu. Inikah cinta, yang hanya perasaan utamanya sampai membutakan logika. Jika aku harus jujur, tentunya aku harus mengakui, secara logika ia telah berpunya, ia juga selalu membatasi diri dariku, mencoba menghindariku, tetapi dasar akunya saja yang bermuka baja. Tak peka terhadap suasana atau malah tak mau menerima kenyataan yang ada.
-
Senja melambai-lambai di ujung langit kelana bermega jingga, di saat itu juga derita jiwa kembali terasa, sebuah pemberitaan dalam media sosial yang biasa aku guna, tepat sekali, pemberitahuan itu memang dari akun miliknya, ia baru saja mengunggah sebuah foto bersama lelaki yang kulihat beberapa hari yang lalu itu, semakin jelas memberitahukan padaku bahwa lelaki itu memang kecintaannya, foto itu berlatar sebuah tempat ternama di jogjakarta dengan suasana yang menandakan hari menjelang gelap, tentu saja itu adalah peristiwa yang baru saja terjadi, dalam gambar itu si lelaki memberikan bunga mawar merah dan dia dengan tersenyum bahagia menerimanya. Sakit, tentu saja jawabannya adalah sangat untukku, kenapa harus terus menerus seperti ini, akupun tak mengerti, kenapa aku masih saja terlelap dalam tidur panjang dan mimpi indah tentangnya.

-
"Hei, kenapa raut wajahmu seperti itu? Seperti tak punya semangat hidup saja kau ini, kenapa? Ada masalahkah?" Tanya sepupuku, melihatku yang tertunduk lesu.
-
"Tidak, mungkin aku hanya kecapaian saja, aku mau istirahat sebentar, bisa kau tinggalkan aku sendiri?" Jawabku.
-
"Baiklah, semoga tak menjadi masalah untukmu" Katanya beranjak meninggalkanku.
-
Kembali kutekuri apa yang telah banyak aku lakukan untuknya, bukan berarti menyesali apa yang telah terjadi, tetapi hanya ingin kembali mengulang andaikan waktu itu tidak aku nyatakan rasa cintaku, karena semenjak kejadian di puncak gunung perahu itu, jarak antara diriku dengannya semakin terasa merenggang, aku ingat kembali sms sesaat setelah kembali turun kebawah dari puncak.
-
"Maaf, tapi aku merasa seperti dijebak oleh kalian, aku takut, aku jadi tidak suka lagi bersama kalian." Sms nya saat sampai di lapangan bawah di pos dasar pemuncakan.
-
"Kenapa? Apa ada yang salah dari kita?" Tanyaku heran, kenapa juga ia katakan lewat sms tak beranikah untuk diucapkan secara langsung, ataukah memang ini untuk privasi berdua, ah wanita memang penuh tanda tanya.
-
"Apa kau tak menyadari? Seolah-olah semua temanmu juga temanku saling mempengaruhiku supaya dekat denganmu, dan pada akhirnya kau nyatakan juga rasamu, maaf aku sangat menghargai rasa cintamu padaku, tapi caranya tidak seperti ini, jujur aku tak suka" Balasnya lagi.
-
"Maafkanlah aku, sumpah aku tak tahu jika mereka seperti itu, dan aku pun sebenarnya tak ingin ungkapkan rasaku ini jika ku tahu akan begini pada akhirnya, sekali lagi maafkanlah jika kau tak menyukai hal ini, anggaplah saja tidak pernah terjadi hal seperti itu".
-
"Apa? Semudah itu kau menyuruhku menganggap hal ini tak pernah terjadi? Apa kau tak tahu, setiap kejadian adalah membekas  seperti paku yang ditancapkan pada tembok, kalaupun paku itu telah dicabut, tentunya masih ada bekas yang tak bisa dikembalikan seperti semula".
-
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku minta maaf dengan semua ini, sungguh aku tak pernah merencanakan seperti yang kau kira". Sekali lagi aku menjelaskannya lewat sms, ketika kulihat pandangnya yang ada di depanku di atas bak mobil jenis colt terbuka dalam perjalanan pulang, ia hanya diam acuhkan diriku, sepertinya memang ia sangat kesal padaku.
-
"Sudahlah, abaikan" tukasnya.
-
Lalu semenjak itu, ia menjauh dariku, seperti menjaga atau membatasi jarak ketika bertemu, hanya akhir-akhir ini saja ia mau menyapaku, akupun sama, aku malah tak tahu apa yang harus aku lakukan ketika sedang bersamanya. Canggung dan tentu saja sedikit ada perasaan kecewa karena ia tolak cintaku dan dengan tanpa alasan yang jelas ia menyudutkanku. Tetapi hati memang tak bisa dibohongi, aku masih tetap mencintainya, dan bahkan sampai kini ketika aku tahu ia telah mempuyai kekasih, aku masih tetap mampu untuk memberinya kasih cinta, walaupun masih hanya derita yang selalu aku terima.
-
***
-
Apakah benar kiranya, seorang yang kita fikirkan lebih dari satu jam di waktu siang dalam sehari, akan muncul dalam mimpi di tidur kita malam harinya? Ataukah hanya kebetulan saja alam bawah sadar akan memunculkan bayangan seseorang yang telah masuk begitu dalam di jiwa? Ah, apakah itu penting bagiku? Tetapi memang benar jika aku merasa sangat bahagia ketika dia hadir dalam mimpiku malam tadi.
-
Sulit aku jelaskan bagaimana secara detail kronologis kejadian dalam mimpi itu, ia bersama keluargaku di mobil untuk mengantarkanku, saat itu aku di wisuda. Haha, sangat bahagianya diriku hingga ketika ia sampai di jalan untuk kembali ke rumahnya, aku memanggilnya. "Elaaa!", tetapi ia belum juga menoleh, baru ketika dua kalinya aku panggil ia menoleh dan aku katakan "Elaaa, makasih ya sudah mau datang." Ia tak berikan jawaban, hanya senyum manis berhiaskan gingsul khas kecantikannya. Dan itu saja sudah membuat bahagiaku lebih dari apapun.
-
Sementara mungkin di luar sana ia sedang bercanda mesra bersama kekasihnya, berbahagia dengan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, mungkin juga orangtua mereka sudah saling setuju dengan hubungan mereka berdua, mungkin pula sudah ditentukan kapan waktu untuk keduanya memasuki mahligai penggetar 'arys, tahun depan muingkin, atau menunggu setelah keduanya wisuda. Ah, tapi tak bolehlah aku berpemikiran sedemikian negatifnya, aku tak boleh mematikan impian teragungku untuk bersamanya meski kini hanya tinggal harapan, oh tapi apakah itu negatif? Bukankah jika seperti itu berarti si pemuda sainganku itu benar-benar serius padanya dan bukan untuk main-main? Aku cintainya tapi aku juga tak boleh terlalu egois untuk bisa memiliki ia sepenuhnya, apalagi sampai berharap agar Tuhan cabut saja nyawanya agar tak ada oranglain yang bisa memilikinya selain diriku, toh ia juga bisa sangat bahagia bersamanya. Tapi bukankah aku juga sangat mencintainya? Bahkan, ketika aku memandangnya, mataku seperti bisa katakan bahwa hanya dialah satu-satunya wanita yang sangat aku impikan untuk membangun istana cinta bersama. Egoisme hatiku mengatakan bahwa hanya akulah satu-satunya orang yang sangat besar mencintainya,  tak ada orang lain selain diriku yang mampu mencintai ia sepenuhnya.
-
Kuambil buku catatanku, tak kuhitung berapa lama aku meninggalkannya, mungkin ia juga merasakan kesepian -sesepi diriku. Baiklah! Pagi ini, aku akan kembali memasuki dunianya.
-
***
-
Pagi itu ketika embun suci belum menguap termakan sinar mentari, juga ketika kokok ayam belum lama berhenti, ia mendekatiku. Apakah ini sudah menjadi waktunya, waktu bagiku terjamah olehnya? Tidak, aku jangan terlalu berharap, aku takut akan sakit yang kurasakan seperti halnya kemarin, ketika harapan semakin tinggi maka semakin tinggi pula derita yang aku rasai. Tapi harusnya aku berani menanggung segala apa yang terjadi, aku wajib menjaga harapan itu dengan landasan cinta, ketika derita berdasar cinta maka ia takkan terasa, sebagaimana derita bunda manusia mengandung bayinya yang dirasa hanya bahagia.
-
Ia semakin mendekat dan merengkuh tubuhku, membuka lembar demi lembar isiku yang masih banyak kekosongan berapologikan kebersihan, badanku terasa bergetar disentuh olehnya, ingin rasanya aku berlari keluar rumah dan berteriak sekuat-kuatnya untuk melepaskan kelegaan rasa bahagia yang selama ini menyesak di dada, sebagaimana teriakan cinta yang biasa dilakukan gadis perawan ketika dimabuk asmara. Lalu ia mengambil sahabatku si pena dan menggoreskan tato aksara yang selama ini kurindui.
-
"Wajah jingga itu masih menampar awan senja! Saat muka gelap membayang di angkasa! Tapi tenang sayang, raut terang penuh cinta itu, esok pagi datang menghapus duka.

Di akhir kisah kita nanti, ku hanya mampu berharap, cinta kita takkan pernah berakhir.

Biarkan kita terbang dan berpisah untuk sementara, menggapai impian masing kita, lalu kemudian bukit indah itu mempertemukan sekembalinya kita."
-
Entah, itu puisi atau apa, dan untuk siapa pun juga aku belum mengetahuinya. Tapi semenjak itu Aku memang terus dibawa oleh tuanku kemanapun ia pergi, singgasanaku adalah ruang kecil yang kadang sesak bersama saudara sebangsaku yang lain, juga beberapa perlengkapan yang selalu diusungnya. Aku bahagia, bisa kembali bersamanya.

-
-
-
(Digubah di Wonosobo_13 September 2016)

(English Version)


"About me and A Writer Broken Heart"

By:
Ilkhas Suharji
-
-
-
At a small table in brown wood varnishes with various doodles handwritten nosy stigmatization, oh for me not tarnish but give the great works of art man's pen. I lay no power except when the wind is a little strong it threw me, opened my sheet by sheet. Beside me is asleep ordinary faithful companion gave me a tattoo body with sentences of literature or painting turmoil words of his master, his master was also my host.
-
It's been over a month now my body untouched by the slightest of my lord, but usually not a single day passed except me definitely touched by it. Honestly I did miss the moments when I fuck him, laugh with him, or tell stories about the days he went through, or complaints about love, or else thinking about a topic, or pouring the creative ideas of the world, or even poetry ria. I wanted to cry to feel my condition at this time. Have I worn away by the ferocity of the time and run over the changing times? Or hadirku which has been replaced by another figure that is more beautiful and attractive?
-
Indeed there was no right to me to complain about it, or actually there is no other thing to complain about, the real complaint would just bring me in hate. But, at least may I express my heart, a sense that now I lead, loneliness, as useless, meaningless, and for what I have? Oh God, without me consciously or unconsciously fact remains now I start complaining, I miss God, Wrong?
-
Should I portray themselves as the Lake of Tears as in the legend, the freshwater lake fresh change its contents into the water salty like tears of longing for the figure of Narcissus, a youth who earlier every day kneeling at the edge of the lake to admire the beauty of yourself through the reflection of his reflection in the overlay water like a mirror and was blown away by himself until one morning he fell into the lake and drowned. Should I become a lake with weeping now missed my master who used to also write praises for himself. Is actually my lord also like Narcissus admiring himself and eventually merged into the master of my body? Just as Narcissus sank into the lake. Is it possible that? Ah, I'm just good at guessing, actually on my lord only he himself knows for sure.
-
This longing baffles me, I'm like a fisherman who lost their way, should be what and how this myself? Even at night, when the silence was still silent, night breeze pierced the marrow in through the ventilation window, and the sky is tired without the presence of the moon and stars, the night dark, dark. I still remain empty and hollow, my body is white and I now want to make it stain, black stain that comes out of the tip of a blunt object my best friend, which of course is driven by the master.
-
To me, what is the meaning of pure white without love, stained and dirty sometimes better would, I feel like I give a stimulus to him to bounce ardent caress me ferociously struggled with the words, until a later climax and ejaculation important ideas in my womb and subsequently given birth the fruit of the work of the formations.
-
***
-
The morning began to feel the horizon, I saw sunlight from behind the hole translucent roofs, glass tiles are made out their it. Tuan ku wake of his own dream remains no greeting, not like before a month ago, usually every open eye he immediately look for me, put me in love with ink. I wonder what is my fault? Or what happened to him? Things like how it's capable of making a change? My brain was crammed full of question marks.
-
I looked at the signs of my master, acting without first washing her face has been holding daily news, headline news' of the paper is the issue of the president's policy against drug kingpin foreign nationals who will be in execution. Also protests from various circles of society to the ambiguous determination of the law in cases that bring into conflict between the police and combating corruption commission. Then continue the opening of the sheet to the sports page, news of the victory of his favorite soccer team in the European Champions League stage made her smile satisfied.
-
"Come on! Soon, not why, just look at me minimum! Please." I screamed begging the attention of the lord.
-
He rose toward me, getting closer and closer, felt my heartbeat getting stronger wriggle. Will he again embraced me and kissed me on the lips passionately and gently squeezed my chest, or simply kissed my forehead and give intimate caresses of fingers for me? Well, apparently he kept walking past me, not even the slightest his eye was mine. Upset increasingly feels, the more haunting guilt, but what have I done? Is this how well a person feel when he meaningless, not rewarded? I wanted to kill myself, if I did not immediately realize that I am only an inanimate object such as the human mind, but they are not anything that I will be frustrated if it continues not clocked, if I just lay not contain streaks of 'ink', even sometimes I got jealous of gravity of the display wall that adorn this room, or a kid's book kindergartens that only contains abstract painting of doodles colorful crayons.
-
***
-
In the corner of a table selling rice for breakfast or a drink at a time of rest, presented warm tea along with rice which had been smeared with hot oil along with spices and seasonings, I've been sitting had been waiting for him, not waiting for a booster stomach this morning, but waiting for someone who could accompany each day, to just sit beside me or tell me of the days she lived.
-
Already one half years ago I went through solitude, without the figure of reminders me of the promises of God, he said humans were created by pairs, but I'm still alone, yes I know this might indeed ordeal for patience, volunteered in solitude and quiet.
-
Touching warmth plate that dissipates heat from the rice-colored soy sauce, as well as the lukewarm glass of water brownish result of assimilation of chemical substances, but it was all not able to give out as warmth because my heart is still as cold as the morning dew in the winter, without a lover.
-
It took a while for me to spend the grain this morning, as the length of myself forward idol of the heart that would be with me navigate the beauty of ocean life, with twists waves were definitely the problem is resolved, until the joint at the island paradise of peace. Indeed, the atmosphere around me busy in sensory vision, but my hearing is still silent, only the clang clockwise alone can hear, is not it too painful?
-
I was almost in despair and walking away from the seat where the body vulnerable in this solitude, suppose I do not hear a beautiful voice that penetrated from the lips and vocal chords through the wave conductor and menelusuk into my eardrums. Reflex heart instantly rumbles like a ripple turmoil waterfall abysmally presumably, realized the sound was coming from the figure of Eve must bodied nymph and be full of love, and when turning her eyes, it is true, he is the one who became 'Eros' my heart.
-
Ah, but he who makes desolate soul of their happy, my belief has long been awakened into a palace that I call 'love castle', was devastated by it. Hopes into pieces despair, after he rejects MY Holy love at night, when the stars and the moon to accompany us both the beauty of the universe harmonica.
-
The night before dawn, when both the seat that he leans on my shoulder, I guess it was the right moment.
-
"When I love you with all myself, if you're the reply to the ideals of love?" I said him hand in hand with animal noises at night.
-
His mouth was silent, his voice barely a sigh breath, he off its back, his eyes staring at the grass begins to condense, and the silence of thinking to answer, and I was just waiting while seeing of stars in the sky, while the mountain breeze ceaselessly tries freeze my veins.
-
"What would you not heed the request of my taste? Or is silence as a sign welcoming you love?" I reiterate that only the sound looked down quietly.
-
He had raised his face looked at me with a forced smile, "Do not like it yes. I want us like this only! No more." I saw Her face turned sympathetic melancholy, maybe he saw my expression is flat. "Forgive me". He said and got up to leave me alone, she returned to the tent to join up with friends, I was still sitting with heart sour, still less understand or actually I know this is called unrequited love, and my flat faces increasingly stiff wind suddenly swept away by the swift arrived carrying a fog of depression.
-
The shadows of the bitter memories without realizing it stopped when its owner has arrived in front of my dining table and he greeted.
-
"Hi". She said with a smile that, yes, that smile is sweet but deadly, though still always longed for.
-
I just responded with a bitter smile that forced act sweet, even though made more awkward. He sat at a table before me after ordering menu, because that places are still available, and the atmosphere is dead, I remained silent, as well as he did.
-
"Alone are some yourself?" He asked, trying to break the ice.
-
"Yes, as you can see it, you too?" I replied with a still-faced flat.
-
"No, I'm waiting for someone, I have an appointment." His face was turned down-noleh show search guarded figure.
-
"Ooh like that." I say ignore it, while stirring iced tea.
-
He was silent, I will together shortly thereafter came a man of my age sitting and was beside him. Not too handsome but shows the figure of an established elite neat and impressive, he politely bow our heads to me, I will reply with the same thing. I was quiet and I took the book in a bag pretending to read but really focus on listening and occasionally pay attention to them.
-
"How did you lecture ndugh here?" The man asked him, calling 'ndugh'? I understand it is a pity call from a woman who indicates the closeness.
-
"Regular, mas yourself? What about college mas in Jogja?" He answered with a spoiled, do not usually see it as happy as it was.
-
Their conversation was more fun just inversely with me the more fiery burning jealousy I should not have that right. From what they're talking about, I can tell that the man is a law student at major universities in Jogja. I was powerless longer withstand the turmoil of this anger, got up away from them, toward the cafeteria cashier, pay and go. At first glance I still see them from behind, and it seems like their I did not mean for him. He was still absorbed joking ria with a man who I believe was her boyfriend.
-
***
-
It is not easy to turn the hearts of his love, even though he felt only sorrow and heartache, like a moth that can not turn away from the lights of the city, although he felt only the heat seared his body. My love is the same, I loved her even hurt my heart, I love him even though I knew he had been dispossessed.
-
***
-
"Tomorrow there is a discussion about the 'female migrant workers' on campus, you can come?" I asked him via electronic messages.
-
"Oh thank you for the info, but unfortunately I can not follow mas, tomorrow I'm going to Jogja" she said.
-
"What show there?"
-
"Touris hunting event with the children the language, the first to advance Borobudur in Magelang, then to mallioboro jogja"
-
"Ooh, yes successful course for the show, do not forget by-him yes!" I joked.
-
There was no reply from him,
-
Is this the way of me as shameless sahaja against women graceful. Is this love, which is just a feeling primarily to blinding logic. If I have to be honest, of course, I must admit, logically he had dispossessed, he also always limit themselves from me, trying to avoid me, but he admitted basis are faced steel. Insensible to the atmosphere or is not willing to accept the reality.
-
Dusk waving in the most nomadic mega orange, when it also suffered life back felt, a proclamation in social media that I was used to, precisely, notification was indeed from his account, he recently uploaded a photo with the man saw a few days ago, the more clearly tell me that the man was indeed his love, the photo was set in a place famous in jogjakarta with an atmosphere that marks the days leading up to the dark, of course it is an event that just happened, in that image the man gives roses red and he was smiling happily accept it. Hospitals, of course the answer is very me, why should continuously like this, I will not understand, why I'm still asleep into a deep sleep and sweet dreams about it.


-
"Hey, why the look on your face like that? As no zest for life have you been, why? There masalahkah?" Asked my cousin, saw the bowed sluggish.
-
"No, maybe I'm just exhausted, I want to rest for a while, can you leave me alone?" I replied.
-
"All right, may not be a problem for you" Said moved left.
-
Back ponder what a lot I did for her, it does not mean regret what has happened, but just wanted to return to repeat suppose that the time was not I express my love, because since the incident on the mountain top boat, the distance between myself with him more so stretchable, I recall sms shortly after returning coming down from the summit.
-
"I'm sorry, but I felt like trapped by you, I'm afraid, I'm so not like anymore with you." Sms her as she reached the bottom field at the post basic climbing.
-
"Why? Is there something wrong with us?" I asked surprised, why he said via sms do not dare to say it directly, or is this for both privacy, ah lady is full of question marks.
-
"Do not you realize? It is as if all your friends are also my friends mutually influenced me so close to you, and in the end you also goes Tua Goliath, sorry I appreciate your love to me, but do not like this, to be honest I do not like" He replied again.
-
"Please forgive me, I swear I do not know if they like it, and I did not really want to express a sense of me if I knew would be like this in the end, once again forgive if you do not like this, suppose that just never happened anything like that" ,
-
"What? How easy is it you want me to consider this never happened? Do not you know, every event is an impression like a nail that is attached to the wall, even if the nail had been revoked, of course, there are still scars that can not be restored".
-
"Then what should I do? I'm sorry to all of this, really I never plan what you think". Once again I explain it via sms, when I saw his eyes in front of me on top of an open tub colt car on the way home, he just quietly ignore me, indeed she seemed very annoyed with me.
-
"Never mind, ignore" he said.
-
And since then, he pulled away from me, like keeping or limit the distance when they met, just lately he wanted to say hello, I will same, I do not even know what I should do when you're with him. Awkward and of course there feeling a little disappointed because he rejected my love and with no apparent reason he had to corner. But the heart can not be lied to, I still love him, and even now when I know he has a bona fide lover, I was still able to give him the love of love, although still only pain that I always receive.
-
***
-
Is it true presumably, one that we think is more than an hour at a time during the day, will appear in a dream in our sleep that night? Or is it just coincidence subconscious would conjure up images of a person who has entered so deeply in the soul? Ah, is it important to me? But it is true I was very happy when she comes in my dreams last night.
-
Difficult I explain in detail how the chronology in the dream, he was with my family in the car to take me, then I'm in the finals. Haha, very happy myself up when he got on the road to return home, I called him. "Elaaa!", But he had not yet turned, only when two-time I call, she turned and I said "Elaaa, thanks for coming." He did not give an answer, simply decorated with a sweet smile gingsul typical beauty. And that alone makes my happiness more than anything.
-
While probably out there he was joking intimate with his girlfriend, to be happy with someone who could make him happy, maybe their parents had mutually agreed with their relationship, might also have been determined when the time for the pair entered mahligai vibrator 'Arys, next year perhaps, or wait after both graduation. Ah, but not so-so I minded so negative, I can not turn off my biggest dreams to be with him even now only hope, oh but if it's negative? After all, if such a mean boy rivals, it really serious to him and not to mess around? I love her but I'm also not be too selfish to be able to have it fully, let alone to hope that God will tear out his life so that no other people can have it than myself, yet it can also be very happy with him. But was not I love him so much? In fact, when I looked at him, my eyes could almost say that only he is the only woman who I dreamed to build a palace of love together. Egoism my heart says that only I was the only person who loved her very large, no one other than myself that he was fully capable of loving.
-
I picked up my notebook, not counted how long I leave, perhaps she felt lonely lonely -like myself. OK! This morning, I will re-enter his world.
-
***
-
That morning when the dew evaporates sacred yet inedible sunshine, as well as rooster has not been long since stopped, he approached me. Whether this is already a time, a time for me touched by it? No, I do not expect, I was afraid of the pain was just like yesterday, when expectations are higher the higher the pain that I feeled. But should I dare to bear all that happens, I shall keep the hope that with the foundation of love, when the pain is based in love then he would not be so, as human mothers suffering containing baby that feels just as happy.
-
He was getting closer and embrace my body, opening the pages of my inside are still many vacancies apologied cleanliness, my body was shaking touched by it, I feel like I ran out of the house and shouted their utmost to release relief sense of happiness that had become tight in the chest, as shouts love is usually done when a lovestruck young virgin. Then he took the pen and drew my friend script tattoo that had been miss.
-
"The face was still slapping orange twilight clouds currently looming dark face in the sky! But do not worry dear, look on the bright loving it, tomorrow morning comes remove sorrow.

At the end of our story later, my only able hope, our love will never end.

Let us fly and split up for a while, to reach our individual dreams, and then the beautiful hills that bring us in return. "
-
For some, it's a poem or something, and to anyone I do not know. But since then I do indeed continue to be taken by the master wherever he went, my throne is a small space that is sometimes crowded with relatives other countrymen, also some supplies were always carried. I'm happy to be back with him.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar