"Rahwana Kelangan Rai"
Oleh: Ilkhas Suharji
sumber photo:http://4.bp.blogspot.com
.
.
.
.
Ada seorang bercadar hitam. Di
tengah malam, mengendap pelan jalan bertahap perlahan, memasuki peraduan maha
mewah berhiaskan emas permata dan pajangan kulit yang dikupas dari hewan
primata. Di luar istana, suara jengkerik masih mengkerik membuat berisik
suasana, namun semua penjaga yang berada disamping kiri kanan pintu masuk tak
sedikitpun bersuara, penjaga itu berupa raksasa buta dengan membawa senjata
gada, sedang lemas tertidur tanpa dengkur, tak seperti biasanya, yang selalu
waspada, siap siaga, berjaga-jaga.
-
Kokok ayam melengking seirama
senyum fajar menyungging. Sang Maharaja Buta membuka kedua mata, semua selir
rupawan juga terbangun menyiapkan makanan untuk nanti sarapan. Sedangkan Putri
Nareswari dari kalangan bangsa peri berwajah bidadari, masih ditahan dalam
kurungan sangkar emas dengan wajah bersendu memelas, ia sudah terjaga beberapa
waktu lalu. Sebenarnya ia tidak tidur, masih terbayang wajah kekasih pelipur lara,
yang tak tahu bahwa ia diculik oleh Rahwana, dibawa kabur, mau dijadikan wanita
penghibur.
-
"Selamat pagi cantik!
Lelapkah istirahatmu malam ini?" Rahwana berjalan mendekat tanpa busana.
-
"Siapa kamu?" Putri
terkaget melihat sosok baru.
-
"Lho sayang, kau tak
mengenaliku? Akulah Rahwana, raja dari segala raja raksasa! Hahaha."
Menggelegar suaranya
menggaung di seluruh kamar istana. "Janganlah kamu berpura amnesia, aku
yang kemarin menculikmu di hutan rimba. Hahaha."
-
"Bukan! Itu bukan kamu!
Kamu bukan Rahwana! Kamu yang berpura-pura!" Bantah Putri yang memang melihat
sosok di depannya tidaklah sama dengan yang kemarin melarikannya.
-
"Hohoho. Aku tahu ini
hanya muslihatmu, supaya aku menyangka kau telah gila dan aku akan segera
membuangmu dari Alengka. Iya kan? Hahaha. Aku tak sebodoh yang kau kira,
cantik! Hahahahaha."
-
"Tidak! Aku pantang
untuk berdusta. Dan sungguh! Kau bukanlah yang kemarin. Kau berubah!"
-
"Hahaha, bukankah memang
tiada sesuatupun yang tetap di semesta ini? Semua pasti berubah, dari waktu ke
waktu, detik demi detik, tiada yang permanen. Bukankah begitu? Hahaha."
-
"Iya, tetapi kini kau
bukanlah kamu! Lihatlah sendiri rupamu! Kau bukanlah dia yang kau maksud!
Bercerminlah!"
-
***
-
Kerajaan Alengka geger
seketika, semua muka yang biasa dipakai Rahwana hilang tanpa sisa. Kesepuluh
wajah yang menjadi taji kekuatan utamanya itu telah dicuri, ditanyakan kesana
kemari, tiada yang mengetahui. Ia pergi ke Gua Lawa dengan tujuan menanyakan
kepada adiknya-Kumbakarna, barangkali wajahnya sedang dipinjam untuk
menakut-nakuti harimau loreng atau macan kumbang, tetapi Kumbakarna sama sekali
tidak tahu menahu, dan tak mungkin juga hal itu terjadi, karena ketika Rahwana
menemui Kumbakarna, adiknya itu masih lelap mendengkur, ia sedang menjalani 'tapa
turu' selama satu windu.
-
"Heladalah. Dimana
sebenarnya muka-muka-ku? Siapa gerangan yang mencurinya? Hoalah hasssuuuu!
Genjik briliik! Celeng nggaleng! Kalau ketemu tak jadikan rujak polo cecunguk
itu!" Kesah Rahwana membanting gelas hingga belah, pecah. Ruah.
-
Rahwana mengamuk,
mengobrak-abrik seluruh istana, banyak barang remuk, dihantam tangannya. Di
gua, Kumbakarna bangun dari tapa brata, mengeluh karena suara riuh gaduh dari
arah istana, segera saja ia berlari, sendiri, tanpa pasukan kavaleri.
-
"Hei! Ada apa ini? Siapa
yang berani mengorak-arik istana Alengka? Celeng mancen ka!" Bentak
Kumbakarna sesampainya di dalam keraton.
-
"Aku. Memangnya kenapa?
Heh!" Jawab Rahwana bermuka merah, menahan amarah.
-
"Siapa kamu?
Berani-beraninya mengobrak-abrik istana Alengka?" Tanya Kumbakarna yang tidak
tahu kalau sosok itu adalah kakaknya.
-
"Aku Rahwana!
Bodoh!" Bentak Rahwana.
-
"Hei! Jangan coba-coba kau
mengaku sebagai kakakku! Kakanda Rahwana tak mempunyai muka sebanci kamu!"
Kumbakarna semakin tak percaya.
-
Memang wajah Rahwana yang
tadinya seperti emotikon. Ada sepuluh ekspresi raut ronanya, muka setan alas
roban, muka menjulurkan lidah ular naga, muka cemberut gorila tua, muka kaku
singa lodra, muka tidak tertarik segawon lanang, muka sarkastik kirik blirik,
muka sedih buaya putih, muka marah elang merah, muka malu babi alas, dan muka
terkejut hiu laut. Kini berbentuk muka aslinya, tanpa dilapisi topeng taji.
Wajar saja jika Kumbakarna pangling, delapan tahun yang lalu dan tahun-tahun
sebelumnya, semenjak kecil, ia belum pernah melihat wajah Rahwana yang
sesungguhnya. Muka Rahwana kini berwajah tampan rupawan seperti jelmaan Sang
Hyang Kamajaya.
-
"Dinda Kumbakarna, aku
benarlah Rahwana. Ada seseorang yang telah mencuri semua mukaku! Percayalah
padaku duhai adikku!" Rahwana menenangkan diri dan menjelaskan kejadian
yang terjadi.
-
"Tidak! Aku tidak pernah
punya kakak sepertimu! Kalau kau benar-benar kanda Rahwana, cobalah kau
bertiwikrama menjadi raksasa seperti biasanya!"
-
"Duhai Adinda Kumba, aku
telah kehilangan tajiku, bagaimana mungkin aku bisa mengubah diri menjadi
raksasa? Tapi percayalah! Aku ini Rahwana. Raja semua raksasa!"
-
"Kalau begitu kau
bukanlah kanda Rahwana! Aku tidak bisa mempercayaimu sebelum kau bisa
membuktikannya. Sekarang cepat ubah dirimu menjadi raksasa atau pergi dari
istana ini, atau kalau masih ngeyel. Kau mau aku buat mati? Cepat ubah atau pergi!"
-
"Dinda Kumba."
Rahwana memelas, seperti mau menangis, baru kali ini ia merasa tak berdaya.
Jika pun ia melawan adiknya, tentunya ia akan kalah, mati sekonyol-konyolnya,
ia tahu, ketika ia tak memakai topeng taji, maka ia tak mempunyai kekuatan yang
berarti.
-
"Baiklah. Aku akan pergi
dari sini, akan aku cari pencuri mukaku itu, dan akan aku buktikan kepadamu
bahwa aku adalah benar-benar Rahwana, kakandamu!" Rengeknya. "Dan
sebelum aku pergi, aku berpesan padamu. Meskipun mungkin saat ini kau tak
mempercayaiku bahwasannya aku ini benar-benar Rahwana, kakandamu. Aku titipkan
istana Alengka ini kepadamu, jagalah pula Putri Nareswari yang telah
susah-susah aku curi. Jagalah ia hingga aku kembali. Firasatku mengatakan bahwa
yang mencuri mukaku pasti si bajingan Putra Narendra itu. Akan aku cari dia,
aku akan berunding, bernegosiasi dengannya, akan aku tukar kembali Nareswari dengan
muka tajiku." Tak berselang lama, Rahwana telah meninggalkan istana, pergi
menelusuri hutan rimba.
-
***
-
Seorang bercadar hitam yang
diceritakan di awalan, bisa kita lihat, ia sedang menjemur ketela yang telah dikupas,
direndam dan dirajang kecil-kecil menjadi gaplek, gaplek yang telah kering
nantinya diolah lagi dan akhirnya menjadi tiwul atau leye. Ia tinggal disebuah
gubug kayu beratap rumbia, sederhana sekali. Sementara Rahwana kita amati
sedang berjalan cepat, kadang berlari kecil, kadang cepat, kadang berhenti
istirahat, berlari cepat lagi, berlari kecil, berjalan cepat, dan berjalan
pelan menuju tempat tinggal seorang bercadar hitam. Semakin lama semakit dekat,
mendekat, dan sampailah Rahwana di gubug sederhana itu dengan selamat.
-
"Narendra! Hosssh hosssh
hosssh! Narendra! Sssh, sssh." Teriak Rahwana dengan nafas megap-megap.
-
"Iya, ada apa? Siapa
kisanak ini? Ada perlu apa datang kemari?" Tanggap seorang bercadar hitam.
-
"Mana muka-mukaku yang
kau curi itu?" Terus terang Rahwana tanpa basa-basi adat Jawa.
-
"Mukamu? Siapa kamu?
Mana aku tahu?"
-
"Alaaah! Jangan
berpura-pura kamu! Aku Rahwana dan kau yang mencuri muka-mukaku kan?"
-
"Jangan asal tuduh!
Punya bukti apa kau menuduhku mencuri mukamu?"
-
"Halaaah! Aku tak mau
basa-basi, serahkan mukaku itu padaku sekarang juga!"
-
"Tunggu-tunggu.
Janganlah kamu terburu nafsu, segalanya bisa kita bicarakan secara santai dan
tenang, baiknya panjenengan singgah masuk dulu ke dalam gubug saya ini. Biar
saya lakukan apa yang seharusnya aku lakukan pada tamuku. Kau adalah tamuku,
mari aku jamu dengan jamuan ala kadarnya." Ajak seorang bercadar hitam
sopan.
-
"Tidak! Terimakasih,
tetapi yang aku inginkan permasalahan kita segera selesai! Sekarang dimana kau
sembunyikan mukaku itu? Cepat kembalikan padaku sekarang juga!" Rahwana
semakin tak sabar.
-
"Enak saja kau menuduhku!
Apa buktinya kalau aku yang mencuri mukamu? Heh!"
-
"Penulis cerita ini yang
tadi memberitahukan kepadaku. Kalau kau masih tak percaya, silahkan saja
tanyakan kepadanya!" Lho lho lho, kok Rahwana malah katakan yang
sebenarnya? Dasar tak tahu diuntung! Melempar api sembarangan.
-
"I...I...iya Narendra,
aku yang memberitahukan kepada Rahwana, soalnya nganu,,,emmm,,,aku kasihan
lihat Rahwana seperti itu. Maafin aku ya! Soalnya, biar cerita ini cepet
selesai juga. Hehe." Kataku menjelaskan pada seorang bercadar hitam itu.
-
Kita bisa menyaksikan betapa
kecewanya seorang bercadar hitam itu kepadaku.
-
"Baiklah. Aku akui bahwa
memang aku yang mencuri mukamu. Tapi kau perlu tahu juga! Aku melakukannya
karena aku menuntut balas kepadamu wahai Rahwana! Bukankah kau juga yang telah mencuri
kekasihku, Putri Nareswari?"
-
"Iya, aku yang telah
mencurinya. Sekarang aku bisa merasakan betapa kecewanya menjadi seorang
pencuri yang kecurian. Hal yang paling dibenci oleh pencuri adalah ketika
barang miliknya dicuri orang lain, pun sama halnya kekecewaan seorang pembohong
adalah ketika ia berhasil dibohongi oranglain." Kata Rahwana bijak. "Aku
mengakui kesalahanku, aku telah mencuri Nareswarimu."
-
"Baiklah, sekarang
jelas. Ia yang mencuri pasti akan dicuri, sedang ia yang memberi pasti akan diberi.
Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Seorang bercadar hitam membuka
perundingan.
-
"Baiklah, karena ini
sudah jelas. Maka aku ingin menawarkan untuk kita sama-sama saling
mengembalikan apa yang telah kita larikan. Kau mengembalikan muka-mukaku, dan aku
akan kembalikan kepadamu Nareswarimu. Bagaimana?"
-
"Baiklah, sepakat!"
-
"Kalau begitu, mari ke
istanaku." Ajak Rahwana senang. "Oh iya, satu lagi, aku meminta
tolong kepadamu, agar kau nanti bisa menjelaskan kepada adikku, Kumba, bahwa
aku memang benar-benar Rahwana. Kakaknya."
-
"Iya, kita lihat nanti."
-
Berdua. Rahwana dan seorang
bercadar hitam bersegera menuju Keraton Alengka.
-
***
-
Nun mati bertemu tasjid yang
jauh di belahan sana. Di istana Alengka, Kumbakarna sedang merayu Putri
Nareswari. Diberikannya gombalan-gombalan dan rayuan, agar sang Putri luluh
hatinya, jatuh cinta padanya, dan mau diajak tidur dengannya.
-
"Seumpama embun pagi,
kau adalah embun yang paling suci, bolehkah kiranya daku meneguk kesucian itu
barang setetes saja, agar dahaga menahunku ini bisa lega seketika? Wahai
cantik. Kupikir para bidadari kahyanganpun cemburu dengan kecantikan parasmu."
Bisik Kumbakarna ke dekat telinga Putri, ia masuk ke dalam jeruji sangkar yang
mengurung Nareswari.
-
Si putri hanya diam dan
menghindar sebal ketika dagunya disentuh oleh Kumba.
-
"Hahaha, bodoh sekali
Kanda Wana, tak tahu kalau aku hanya berpura-pura tak mengenalinya. Sekarang,
kini kekuasaan Alengka berada di tanganku sepenuhnya. Selama ini aku sudah muak
dengan kepura-puraanku bersikap baik padanya, semenjak kecil, hanya ia yang
selalu diunggulkan, selalu diuntungkan. Sedangkan aku? Aku selalu menjadi yang
nomor dua." Kesah Kumba mengakui kesebenaran isi hatinya. "Hah!
Peduli setan! Terpenting sekarang akulah yang menjadi penguasa kerajaan
raksasa. Aku sudah bosan bertahun-tahun hanya tidur-tiduran saja, sekarang
saatnya aku mulai memerintah Alengka. Akulah Sang Kumbakarna, menjadi maharaja
diantara para raja raksasa! Hahahahaha."
-
Kumbakarna kembali mendekati
Putri, Ia meraba-raba tubuh Putri yang tangannya masih terikat ke belakang. Putri
meronta, menghindar. Namun Kumba berhasil menusukkan keris tumpulnya ke dalam
lubang surgawi Nareswari. Di saat seperti itu, entah dengan ajian apa Rahwana
dan Seorang bercadar hitam telah memasuki istana.
-
"Hei Kumba! Apa yang
sedang kau lakukan?" Teriak Rahwana marah melihat adiknya berkelakuan tak
senonoh kepada Putri.
-
Kumbakarna kaget setengah
modar kepergok dua sosok yang dikenalinya. Kakaknya dan satu lagi seseorang
yang pernah menemuinya untuk mengajak kerjasama.
-
"Narendra, cepat
berikanlah muka-mukaku biar kuhajar Si Kumba!" Gegas Rahwana meminta
kepada seorang bercadar hitam.
-
Secepat kilat Kumba berubah
menjadi sesosok raksasa besar bertubuh beruang dan berwajah menyeramkan, gigi
taring sepanjang gading, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merinding.
Pun sama halnya dengan Rahwana, ia telah memakai topeng tajinya, sehingga ia
berubah menjadi sesosok monster berkepala sembilan. Memang sengaja masih
disisakan satu topeng taji paling sakti oleh seorang bercadar hitam, masih
disembunyikan dikempit di ketiaknya.
-
Terjadilah tarung kembang
super dramatis, antara Kumba dengan Wana. Kedua raksasa saling hajar, pukul dan
dipukul, menggajul dan digajul, tumbuk dan tertumbuk.
-
"Bajingan kau Narendra,
kau telah berkhianat kepadaku, kau mengingkari janjimu untuk tak akan
memberikan muka Kanda Wana kembali." Umpat Kumbakarna di sela pertarungannya.
-
"Bukankah memang seperti
ini yang seharusnya aku lakukan pada pengkhianat sepertimu. Tega sekali kau
memintaku untuk mencuri topeng taji kakakmu sendiri, hanya agar kau bisa mengusir
kakakmu dan menguasai kerajaan Alengka ini! Terlebih lagi kau pun telah
berkhianat kepadaku, teganya tadi kau mencoba memaksa Dinda Nareswari hanya
untuk kepuasan nafsumu!" Bantah Seorang bercadar hitam sinis.
-
"O.o.o. Jadi seperti ini
ternyata pembalasanmu padaku Kumba? Tiada ampun lagi bagimu! Hyaaaat!" Serangan
mendadak dilancarkan Rahwana sehingga gada rujakpolonya tepat mengenai
ubun-ubun Kumbakarna, kepalanya pecah, otaknya berhamburan, muncrat
kemana-mana, dinding istana berubah merah hati, Kumbakarna mati.
-
***
-
Suasana kembali tenang.
Rahwana menghampiri seorang bercadar hitam, dipeluknya ia seperti memeluk
sahabat yang sudah berjuta tahun tak pernah jumpa.
-
"Terimakasih Narendra,
kau telah membantuku memusnahkan pengkhianat dalam selimut kamar istanaku.
Terimakasih. Kau layak untuk mendapatkan istrimu kembali. Silahkan bawa saja
Nareswarimu itu ke tempat asalmu." Kata Rahwana dengan tersenyum bangga.
-
Seorang bercadar hitam
menjabat tangan Rahwana dan kembali memeluknya. Melangkah seorang bercadar itu memasuki
kurungan emas, didekati Nareswari yang telah tergolek lemas, dilepaskannya
ikatan yang memborgol tangan kekasihnya itu, mereka berpelukan, Nareswari
menangis, airmatanya membasahi jubah hitam yang ia kenakan. Disaat adegan
romantis itu berlangsung, Rahwana langsung menutup kembali jeruji emas sehingga
mereka berdua terkurung di dalamnya.
-
"Hei! Apa yang kau
lakukan? Bukankah kita sudah bersepakat? Aku telah percaya kepadamu, kenapa kau
malah berkhianat!" Bentak seorang bercadar hitam.
-
"Hoahahahaha! Ia yang
berkhianat pasti akan dikhianati. Bukankah ini juga pantas untukmu? Kau telah
mengkhianati Kumba! Hahahaha." Rahwana tertawa lebar-lebar.
-
"Tapi kita sudah
sama-sama berjanji!"
-
"Janji? Hahahahaha.
Apalah arti janji bagi seorang pengkhianat? Bukankah itu hanya bumbu manis
penyedap rasa? Hahaha."
-
"Biadab kau Rahwana!"
Geram seorang bercadar hitam mengoyak jeruji hinga gemetar.
-
"Huahaahahahaha!
Huahahahahahaha!"
-
Rahwana terus terbahak-bahak,
sesekali ia tersedak hingga suaranya serak. Ia tak menyadari bahwa masih ada
satu topeng taji paling sakti yang belum ia dapatkan kembali. Di dalam jeruji,
seorang bercadar hitam itu memakaikan topeng milik rahwana ke wajahnya, dan
dalam hitungan seperdetik ia telah berubah menjadi raksasa berwajah
menyeramkan, berkepala seperti singa, bertanduk kijang, bersayap elang hitam, bersisik
kura-kura, dan berekor naga. Jeruji emas hancur seketika.
-
"Hoi pengkhianat biadab!
Pergilah ke neraka!" Hanya dengan satu hantaman, satu gigitan, satu
patukan serangan saja Rahwana telah hancur lebur seketika. Seorang bercadar
hitam yang tadi bertiwikrama menjadi raksasa itu telah kembali menjadi wujud
aslinya. Seorang dengan cadar hitam menutupi sebagian mukanya.
-
"Dinda Nareswari. Kau
tidak apa-apa?" Segera Ia menghampiri kekasihnya dan memeluknya erat-erat.
-
Tanpa sepengetahuan seorang
bercadar hitam, Nareswari mengambil sebilah keris yang terselip di pinggang
kekasihnya itu, tanpa babibu, langsung ditusukkan keris itu bertubi-tubi ke
arah punggung, perut, dan dada. Seorang bercadar hitam tersungkur, tergeletak
di lantai, sekarat.
-
"Meng...mengap...mengapa?
Kka...kkkaaa...kkkauu, lakk laaakku...kaaan ini, pad..padaku?" Tanya
seorang bercadar tersendak-sendak, kini cadarnya telah tersingkap,
memperlihatkan dagunya menjulur maju lebih panjang dari rahang atasnya. Muka
bagian bawahnya sungguh jauh dari ketampanan, hancur menjijikkan. Irama gending
Gondosuli berbunyi mengiringi detik-detik akhir hidup seorang bercadar hitam yang
kini telah tersingkap.
-
"Mengapa aku lakukan
ini? Ketahuilah bahwa sebenarnya akulah yang mengundang Rahwana untuk
mengambilku darimu, aku telah jatuh cinta padanya, ia memiliki segalanya,
ketampanan lelaki yang sesungguhnya, harta kekayaan, dan kebahagiaan, tidak
sepertimu. Aku telah bosan hidup dalam kemelaratan, terlebih lagi lihatlah
dirimu! Apakah kiranya seorang putri secantik diriku selalu bercinta dengan
seorang buruk rupa sepertimu. Dan kau seharusnya tahu, apalagi yang bisa
menjamin cinta di dunia ini, kecuali harta?" Terus terang Nareswari.
-
Betapa remuk redam hati
seorang bercadar hitam yang kini telah tersingkap itu. Ia merasa ketiadaan
dirinya yang dalam. Mengapa di sisa akhir hidupnya, bukanlah cinta dan kasih
sayang yang ia dapatkan. Malah pengkhianatan. Kekejaman wanita. Semakin cantik
rupanya maka semakin menyakitkanlah jatuh cinta padanya.
-
"Kau boo...boleh
mengkhianatiiiku. Taaa...tap...tapi kau harus taaau... Ti..tiada balasan
terbaik bagi peng...pengkhianat selain dii..dikhianati. Tuu...buhmu akan
mengkhianatimu. Kkkaaau akan segera meem meenyusulku..." Kutuk seorang
bercadar hitam yang kini telah tersingkap kepada mantan kekasihnya. Nafasnya
semakin pekat, sesak memberat, semakin sekarat, dan arwahnya terbang ke
akhirat.
-
"Hahaha. Kini, semua
kekayaan istana ini hanya milikku sendiri. Hahaha." Nareswari tertawa
penuh kemenangan.
-
Namun beberapa menit
kemudian, seluruh tubuhnya terasa gatal, timbul bintik-bintik merah kehitaman,
semakin besar dan membesar, kulitnya seperti terbakar, melepuh, darah mulai
mengucur dari benjolan-benjolan di seluruh tubuhnya, semakin deras dan memeras.
Darahnya terkuras.
-
Pencerita bosan. Mematikan
ceritanya.
.
.
.
(Diselesaikan di Wonosobo, 8 September 2016)
dimuat dalam rubrik digital magazine 'Ceentina' 18 September 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar