"Kubur Angan"
.
.
.
Cermin terbuka, bayanganku nyata, hitam pekat
menganga. Entah terlihat gelap seketika saja, padahal hari cerah satu menit
yang lalu, aku merasuk pada sepersekian waktu, mendalami beberapa bagian entah.
-
Menuduh Tuhan tak punya kehendak, mungkin benar ia
telah mati. Mati menusuk sendiri, karena ia bodoh, membusukkan tubuhnya pada
tanah lahat. Pun begitu, ia masih mengaku Tuhan. Mengutuk sang tasbih sebagai
raja belantara, mengumpat suci yang tak lagi bersih, telah pudar putih.
-
-
Tiba-tiba menelan hitam, ketakutan itu benar-benar
terjadi. Muka mengernyit, mata menyipit, lalu keras-keras menjerit. Sakit.
-
Aku tahu sekarang, bumi telah cacat, kehilangan
sebelah tangan dan kakinya. Sebentar lagi langit terbelah, membuka suram. Anak
tani meletus hamburkan suara, angin mengoyak dada-dada perempuan tua. Ibu bakau
mematah, tergerus samudra mengombak. Ruah. Jala-jala sobek, memang keras. Ini
terlalu kejam. Dan kau yang mengaku Tuhan, kembali menjadiku.
.
.
.
#BaurKataEna
(English Version)
(English Version)
"Bury Wishful thinking"
.
.
.
Mirror open, real shadow, deep black gaping. Either look
dark at once, even though sunny days a minute ago, I was penetrated at a
fraction of the time, to explore some part either.
-
Accusing God does not have the will, probably right he was
dead. Stab himself to death, because he was stupid, addle his body on the
ground lahat. Even so, he still claimed God. Condemning the rosary as the king
of jungle, cursing the sacred no longer clean, have faded to white.
-
Suddenly the black swallow, fear it is really happening.
Frowning face, eyes narrowed, then loud scream. Sick.
-
I know now, the earth has been disabled, had lost his hands
and feet. Soon cleft, open bleak. Farm boy erupted squander sound, the wind
tore a chest-old woman's chest. Mother mangrove mematah, eroded ocean billow.
Ruah. Nets tear, it is hard. It's too cruel. And you were admitted to God, back
to being myself.
.
.
.
3 September jam 21:43 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar