“_Korek Api Yang Jatuh Cinta Pada
Tuannya_”
Oleh : Ilkhas
Suharji
sumber photo: http://www.tandapagar.com
-
-
-
“Ku awali
cerita ini dengan kata ‘CINTA’, kata cinta kepadamu wahai Sang Dewi yang menginginkan
diriku menunjukkan cinta, cinta kepadamu wahai Sang Bidadari yang menginginkan
diriku untuk bercerita tentang cinta, dan cinta yang kutujukan kepadamu wahai Sang
Pemilik Cinta”.
-
Aku menjelmakan diriku menjadi korek
api yang selalu engkau bawa di ransel yang bergambar dua mata, aku menjelmakan
diriku saat itu juga, saat engkauberkata dengan sedikit menantang “Cobalah kau buatkan cerita tentang ini”,
engkau menunjuk pada korek api yang kunyalakan untuk membakar sebatang rokok di
saat kita akan berlatih vokal drama. “Baiklah”,
jawabku menyanggupi, yang segera jiwaku merasuk pada sebatang korek api itu,
aku menjelmakan diriku tanpa sepengetahuanmu.
-
Aku selalu ada dimanapun engkau
berada, aku senantiasa menemanimu di semua waktu yang engkau punya, dan aku
sebenarnya menjagamu ketika engkau dalam gelapnya gulita.
-
Kebutuhan manusia akan cahaya
sebenarnya sebanding dengan kebutuhan manusia akan cinta. Tanpa adanya cinta ia
akan bermurung dalam kegelapan kesunyian dan kegalauan akan masa depan. Seperti
sore itu, ya sore itu, saat kau sendirian di kamar di sebuah asrama tempat tinggalmu
yang semerbak wewangian, seperti sewajarnya kamar seorang gadis memang selalu
wangi sepanjang hari. Itulah kesukaan seorang lelaki, tapi janganlah terlalu
berlebihan sebab dalam agama ‘seorang wanita yang memakai wewangian terlalu
berlebihan akan djadikan sebagai sarana oleh setan untuk berbuat kemaksiatan,
sebab dari wewangian itu, seorang lelaki akan timbul berahinya’. Tapi tak
mengapa, jangan kau takutkan aku, walaupun aku ini lelaki, kini aku sedang
menjelma menjadi sebatang korek api untukmu kutemani, jangan khawatirkan
diriku, aku takkan pernahmerusak kesucianmu.
-
Kau masih termenung entah memikirkan
apa aku tak punya ketahuan, aku hanya mampu melihatmu, hanya mampu memandangmu.
Mungkin kau capek setelah seharian penuh kuliah, lalu berlatih drama denganku
juga. Kau rebahkan badanmu di atas kasur yang empuk dan bersih, aku yakin kau
pasti kecapaian, kau bahkan tak melepas seragam putihmu untuk menggantinya
dengan kaos atau baju santai yang lainnya. Lalu beberapa waktu kemudian kau
telah lelap bersama mimpi menjelang senja sirna.
-
Aku mencoba memasuki alam mimpimu,
tentunya aku harus kembali dalam wujud asliku. Dalam mimpimu, seperti halnya
dejavu saja, mimpimu hanyalah mengulang kejadian tadi siang saat ita berlatih
vokal untuk drama, di pinggir sungai Serayu bersama nyanyian riak air yang
bagai teriakan serbuan ribuan prajurit cinta membanjiri hatimu. Masih dalam
mimpimu itu aku berpuisi ria yang kupersembahkan untukmu, dengan seksama kau
dengarkan sementara aku berdendang;
-
“Seiring dengan gemuruh suara riak serayu,
Kutuliskan syair cinta untukmu wahai kekasih,
Dari atas sini,
Di atas aliran sungai berhiaskan batu-batu,
Tak bosan kupandang paras indahmu meski kau tak menau.
Seperti air yang mengalir dengan derasnya,
Begitupun gejolak ini selalu meletup tiada habisnya,
Berlari menuju samudra lautan cinta,
Berombakkan kebahagiaan-kebahagiaan dalam syair dan
do’a,
Kasih,
Aku mencintaimu dengan semua kekamuanmu.”
-
Kamu
terhentak, bangun dari alam mayamu, dan aku juga kembali disampingmu, kembali menjelma
menjadi korek api, disamping tas yang kaugeletakkan disamping tepian ranjang
sebelum engkau tidur tadi. Tapi suasana gelap, ini pasti mati lampu, gulita
mencekam menimbulkan rasa takut dalam kalbumu, kau gelagapan kebingungan mencari
cahaya,seperti halnya manusia mencari cinta. Aku menghadirkan diriku dalam
tangan ketika kau meraba-rabaapapun yang bisa membuat cahaya penerang, dalam
genggaman tangan yang membelai halus tubuhku, lembut terasa sagat belaianmu dan
dengan satu hentakan kau hidupkancahaya lewat semburan api cinta yang memancar
menyala-nyala, lewat cahaya api itu kau mencari ponselmu, aku tak bisa
mencegahmu atau mengingatkan atau bahkan memintamu untuk kau adakan aku
satu-satunya pegangan dan penerang dalam kegelapan.
-
Kau raih ponselmu bersamaan dengan
itu kau padamkan api cahaya cintaku, aku yang kini padam hanya bisa melihat dan
mengamati engkau menekan tombol-tombol keypad handphone-mu_kalau tidak salah
blackberry merknya_untuk menghubungi seseorang, tak lama berselang kudengar
suara seorang lelaki yang kau jawab dengan mesra, adakah dia kekasihmu? Ah tak
peduli aku, karena sejatinya cinta yang sejati adalah cinta yang beroriantasi
pada yang dicintainya, cinta yang sejati sejatinya tidak membutuhkan lagi
hasrat kepemilikan, karena cinta adalah memberi tanpa harus meminta.
-
Betapa perih, tapi aku harus rela,
karena aku sadar dan aku masih mengingat kata-katamu tadi “Janganlah menjadi korek api, karena ia akan mudah terbakar percikan
api kecemburuan”. Benar katamu, tapi tidaklah sepenuhnya, karena aku akan
tetap menjadi korek api, bukan korek api yang mudah terbakar kecemburuan
seperti yang kau perkirakan. Aku akan tetap menjadi korek api yang mana akan
siap sedia memberikan cahaya cinta ketika kau dalam kegelapan, meski pada
akhirnya ia akan tanggung rasa sakit ketika padam dan tak lagi dibutuhkan.
Hingga nanti kau akan tahu tentang arti keberadaanku yang kini tanpa sepenuhnya
kau sadari.
-
Pada akhirnya, aku harus kembali
lagi kedalam wujud semulaku, menjadi manusia yang menggunakan korek api untuk
membakar sebatang rokok, yang kemudian menyedot-tiupkannya hingga asapnya
megepul-kepul, aku kembali menjadi diriku sendiri apa adanya tanpa harus
menjadi korek api yang rela membakar tubuhnya demi memberikan cahaya untuk
orang yang dicintainya.
-
“Kalau
kamu saja tak bisa menjaga milikmu, bagaimana bisa kamu menjagaku?”. Ini
sindiran darimu yang aku tahu dimaksudkan agar aku tidak lagi merokok. Lalu
apakah aku harus kembali lagi menjadi korek api yang senantiasa siap sedia
memberikan api cahaya cinta di setiap waktu ketika kau membutuhkanku?
-
Sepertinya aku memang harus
mengabadikan diriku menjadi sosok korek api yang selalu engkau bawa di dalam
ranselmu yang bergambar dua mata itu, menunjukkan padamu bahwa aku siap
melakukan apapun untuk kebahagiaanmu. Aku akan menjadi korek api yang telah
jatuh cinta kepada tuannya.
“Ku
akhiri kisah ini masih dengan kata ‘CINTA’, cinta kepadamu wahai Sang Dewi yang
kini tersenyum membaca ceritaku, cinta kepadamu wahai Sang Bidadari yang kini
tahu aku sungguh mencintaimu, dan cinta yang selalu kutujukan kepadamu wahai
Sang Pemilik Cinta”.
-
-
-
Wonosobo (saat mati
lampu sore hari) jum’at, 5 Desember 2014(Dimuat pada digital magazine 'Ceentina' 29 Agustus 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar